TEKA-TEKI RAKYAT (PERTANYAAN TRADISIONAL)

MAKALAH
TEKA-TEKI RAKYAT (PERTANYAAN TRADISIONAL)
Makalah ini diajukan guna memenuhi tugas mata kuliah Adab Asy-Sya’bi
Dosen Pengampu        : Dr. Halimi Zuhdi



Disusun oleh   :
Maulania Safira          (14310052)
Khalimatus Sa’diyah  (14310055)
Hadirotul Qutsiyyah   (14310058)

JURUSAN BAHASA DAN SASTRA ARAB
FAKULTAS HUMANIORA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
2017


KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat AllahSWT yang telah memberikan melimpahkan rahmat, hidayah, taufiq, serta ma’unah-Nya, sehingga kami dapat menyusun makalah ini. Sholawat serta salam selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW.
            Alhamdulillah makalah berjudul “Teka-teki Rakyat (Pertanyaan Tradisional)” ini dapat kami selesaikan. Makalah ini tidak akan selesai tanpa dukungan dari berbagai pihak. Karena itu, ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kami sampaikan kepada ;
1)      Ustadz Dr. Halimi Zuhdi, selaku dosen pengampu mata kuliah Adab Sya’bi
2)      Teman-teman sejawat yang telah membantu dan mendukung terselesaikannya makalah ini
3)      Semua pihak yang terlibat dalam pemnyusunan makalah ini.
Dalam penulisan makalah ini tentunya tidak luput dari kekurangan dan kesalahan. Untuk itu, kami memohon maaf dan menerima kritik dan saran dari para pembaca.
Akhirnya, kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat dan dapat enggugah semangat untuk menimba ilmu dan ibadah bagi segenap pembaca.

Malang, 18 Oktober 2017
Penulis.


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Folklor adalah sebagian kebudayaan suatu kolektif yang tersebar dan diwariskan turun-temurun, dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai gerak isyarat, atau alat bantu mengingat, yang berada dalam berbagai kolektif tertentu.[1] Folklor adalah adat-istiadat tradisonal dan cerita rakyat yang diwariskan secara turun-temurun, dan tidak dibukukan merupakan kebudayaan kolektif yang tersebar dan diwariskan turun menurun. Folklor mempunyai berbagai ragam bentuk, yaitu folklor lisan, sebagian lisan, dan folklor bukan tulisan.[2]
Diantara yang termasuk folklor lisan adalah teka-teki rakyat/ pertanyaan tradisional. Teka-teki dianggap sebagai salah satu cerita lisan. Teka-teki adalah kalimat atau ungkapan yang disampaikan lewat bahasa tertentu dan menuntut orang lain untuk menebak sesuatu (objek) yang dipertanyakan.[3] Seperti yang kita tahu, folklor berkembang di setiap daerah berdasarkan identitas budaya daerah itu sendiri. Dalam makalah ini, penulis akan membahas lebih dalam tenntang teka-teki rakyat yang berkembang khususnya di Timur tengah dan Indonesia. Pembahasan tentang teka-teki rakyat ini dititik beratkan kepada ciri, fungsi dan contohnya sebagai salah satu hasil sastra.
1.2  Rumusan Masalah
1.2.1        Apa yang dimaksud dengan teka-teki rakyat?
1.2.2        Bagaimanakah pembagaian teka-teki rakyat menurut para ahli?
1.2.3        Apa fungsi teka-teki rakyat yang berkembang bagi kehidupan budaya masyarakat?
1.2.4        Bagaimanakah bentuk-bentuk teka-teki rakyat yang berkembang dalam masyarakat Timur-tengah dan Indonesia?
1.3  Tujuan dan Manfaat
Tujuan  yang ingin dicapai dalam makalah ini adalah untuk mendeskripsikan teka-teki rakyat dalam bingkai sastra.
Manfaat yang dapat diperoleh dalam penulisan makalah ini adalah penulis dan pembaca dapat memperoleh pengetahuan dan pemahaman tentang teka-teki rakyat serta memberikan sumbangsih keilmuan bagi akademisi khususnya pengetahuan tentang sastra rakyat/ folklor.


BAB II
PEMBAHASAN
2.1  Pengertian Teka-teki Rakyat
Pertanyaan tradisional atau yang lebih dikenal dengan teka-teki, adalah pertanyaan yang bersifat tradisional dan mempunyai jawaban yang tradisional pula. Pertanyaan dibuat sedemikian rupa, sehingga jawabannya sukar, bahkan seringkali baru dapat dijawab setelah mengetahui lebih dulu jawabannya.[4]Teka-teki adalah kalimat atau ungkapan yang disampaikan lewat bahasa tertentu dan menuntut orang lain untuk menebak sesuatu (objek) yang dipertanyakan.[5]
Teka-teki rakyat adalah jenis budaya rakyat kuno yang berisi berbagai macam informasi dan nilai yang beragam, dengan fokus pada berpikir, meditasi dan kemampuan untuk membedakan antara kata-kata yang bertentangan, baik bertentangan karakter dalam sebuah kalimat atau teka-teki tunggal. Teka-teki dapat berupa wacana dialog, puisi, tembang, gambar, atau simbol-simbol tertentu.
Menurut Mooreis Bloomfield, Teka-teki muncul sejak zaman dulu saat akal manusia mulai berinteraksi dengan yang ada disekitarnya. Ketika mereka menyadari dan menemui fenomena-fenomena dan hukum-hukum alam sekitarnya.[6] Dalam budaya Arab, teka-teki telah dikenal sejak zaman kuno, ditemukan dalam puisi-puisi kuno, serta terukir dalam patung-patung dan tulisan-tulisan kuno. Dan orang-orang Arab menggunakan seni teka-teki untuk dipraktikkan pada berbagai waktu dengan tujuan untuk ajang pamer kemampuan, untuk bersaing antara mereka sendiri dan untuk memperjatikan jawaban dengan menunjukkan keterampilan mental dan kualitas dari budaya mereka.
Menurut Robert A. Georges dan Alan Dundes teka-teki adalah “Ungkapan lisan tradisional yang mengandung satu atau lebih unsur pelukisan (descriptive), sepasang daripadanya dapat saling bertentangan dan jawabannya (referent) harus diterka.[7]
2.2  Pembagian Teka-teki Rakyat
            Menurut Georges dan Dundes , teka-teki dapatdigolongkan ke dalam dua kategori;
a.       Teka-teki yang tidak bertentangan (nonppositional riddles).
Teka-teki tersebut bersifat harfiah, baik pertanyaan dan jawabannya adalah identic. Contoh ; “Apa yang hidup di sungai?’ yang merupakan pertanyaan dan jawabannya adalah ikan. Dalam jenis teka-teka tesebut, keeduanya secara harfiah memiliki kesamaan, yaitu ikan.
b.      Teka-teki yang bertentangan (oppositional riddles).
Teka-teki tersebut memiliki ciri adanya pertentangan antara paling sedikit sepasang unsur yang pelukisannya (descriptive clements). Menurut George dan Dundes, ada 3 macam pertentangan yang berbeda pada teka-teki bertentangan dari tradisi lisan oleh orang Inggris, yakni ;
(1) Kontradiksi yang berlawanan (antiherical contradictive),
(2) Kontradiksi yang mengurangi  (privational contradictive opposition),
(3) Kontradiksi yang menyebabkan (contradictive opposition).
Suatu teka-teki baru dapat digolongkan ke dalam jenis teka-teki bertentangan yang bersifatantiherical contradictive, jika salah satu dari sepasang  unsur pelukisannya yang bertengan benar. Contohnya ; “Saya kasar, Saya licin; saya basah,saya kering; kedudukan saya rendah, gelar saya tinggi; raja saya adalah tuan saya yang syah; saya dipakai setiap orang, walaupun hanya merupakan kepunyaannya,” Jawabannya adalah highway: atau jalan raya modern seperti yang terdapat di Amerika Serikat. Jadi fungsi dari kata “basah” dan “kering” digunakan untuk memperkuat,bukan untuk menyangkal.
Suatu teka-teki dapat digolongkan kedalam teka-teki yang bersifat privational contradictive opposition apabila unsur kedua dari sang unsur pelukisannya mengingkari suatu  tanda (attribute) unsurpertama yang wajar atau  logis. Seringkali fungsi utama suatu benda diingkari. Contohnya  teka-teki yang berasal dari A.S ; Ia mempunyai tangan, tetapi tidak dapat memegang.” Jawabannya adalah Jari-jari lonceng.
Suatu teka-teki juga dapat digolongkan ke dalam teka-teki yang bersifat causal contradictive opposition, apabila bagian pasangan unsur pelukisannya secara ekplisit mengingkari buatan yang dilakukan oleh kepada benda yang terkandung di dalam unsur yang pelukisan pertama yang diharapkan atau wajar. Contohnya dari foklor mahasiswa Jakarta; “Apa yang menuju ke Monas setiap hari, tetapi tidak meninggalkan jejak?” Jawabnya adalah jalan Monas.
Sedangkan menurut Archer Taylor di dalam bukunya yang berjudul English Riddle tradition (1951), telah membedakan teka-teki  dalam 2 golongan yakni ;
(1) teka-teki yang sesungguhnya (true riddle),
(2)  teka-teki yang tergolong bentuk lainnya.
Teka-teki yang sesungguhnya adalah perbandingan diantara (a) jawab yang tidak diberitahukan dan (b) sesuatu yang dilukiskan dalam pertanyaan. Contohnya dari A.S ; “Nancy Eddicote, berpakaian putih dan berhidung merah,”dilanjutkandengan pelukisan yang lebih nyata, tetapi bersifat bertentangan: “Makin lama ia berdiri, makin pedek ia menjadi,” Jawabnya adalah lilin.
Pada teka-teki yang tergolong bentuk lainnya memiliki jawaban yang tidak sesuai dengan hubungannya, sehingga tidak dapat diterangkan dengan mempergunakan logika saja, melainkan diperlukan pengetahuan tertentu.
2.3  Fungsi Teka-teki Rakyat
Beberapa fungsi teka-teki menurut Alan Dundes diantaranya[8];
1)      Untuk menguji kepandaian seseorang
Fungsi Pertama untuk menguji “ kepandaian”  seseorang . kami menyebutkan kepandaian seseorang dan bukan kecerdasan seseorang karena dalam kenyataan banyak teka-teki tidak dapat dijawab dengan daya berpikir saja, melainkan jawabannya harus diketahui dahulu. Memang untuk menguasai pengetahuan suatu koleksi teka-teki, kita bukan saja harus mengetahui pertanyaannya, melainkan juga harus sekaligus mengetahui jawabannya. Hal ini disebabkan kebanyakan yang dilukiskan didalam pertanyaan bersifat metaforik (kiasan). Akibatnya hampir tidak mungkin bagi seorang untuk dapat menjawab suatu teka-teki tanpa pernah mengetahui terlebih dahulu jawabannya yang tepat. Oleh karena itu orang yang paling banyak mengetahui teka-teki akan mendapatkan kepuasan, karena akan terkenal sebagai seorang yang berpengeetahuan luas mengenai folklor. Hal ini menjadi akan lebih penting lagi apabila ia berdiam didalam masyarakat tradisional.
2)      Untuk meramal
Fungsi kedua untuk meramal (divination). Di beberapa negara teka-teki juga berfungsi untuk meramalkan suatu hal. Seperti di Spanyol dan Cina. Di Indonesia sendiri sebagai contoh misalnya ramalan Jayabaya yang pada hakikatnya merupapakan teka-teki yang harus di terka.
3)      Sebagai bagian dari upacara perkawinan
Fungsi ketiga teka-teki merupakan bagian upacara perkawinan. Di Rusia teka-teki tertentu di ajukan oleh pihak wanita kepada pihak pria. Mempelai pria baru boleh mengambil calon istrinya bila ia dapat menjawab pertanyaan tersebut.
4)      Untuk mengisi waktu pada saat begadang menjaga jenazah
Fungsi keempat teka-teki untuk mengisi waktu pada saat bergadang menjaga jenazah yang belum dimakamkan.
5)      Untuk dapat melebihi orang lain
Fungsi kelima adalah untuk melebihi orang lain (one ompmanship). Menurut Alan Dundes fungsi ini merupakan fungsi utama teka-teki, hal ini juga berlaku di Indonesia.
2.4  Bentuk-bentuk Teka-teki tradisional dalam  Budaya Indonesia dan Timur Tengah
a.       Teka-teki Timur Tengah
Di Timur tengah, teka-teki dapat dibedakan menjadi dua. Teka-teki umum dan teka-teki khusus. Yang termasuk teka-teki umum adalah teka-teki biasa yang diucapkan oleh orang-orang biasa, tidak dikenal dan hanya sekedar dikatakan saja. Sedangkan teka-teki khusus diantaranya adalah yang terkandung dalam koleksi puisi dari penyair-penyair disebut (اللغز الشعرية). Juga yang termaktub dalam cerita rakyat, dongeng, dsb, biasanya berbentuk dialog-dialog antar tokoh.
1)      Teka-teki Umum
Punya empat kaki tapi bukan Sapi. Menyelam dan mengapung tapi bukan Paus. Bertelur tapi bukan ayam. Bersinar tapi cacat, Apa itu? Jawabannya, Kura-kura

الحل : السلحفاة
2)      Teka-teki dalam Syair
Saudara perempuan mengawini saudara prianya. Namun keduanya tidak berdosa. Kau boleh melihat si perempuan hukumnya biasa. Di leher prialah pernikahan mereka.
  ومـا أُخـتٌ يُـجـامِـعُـهـا أخـوهـا
      ولَـيـسَ عَـلـيْـهـِمَـا فـيـهِا جُـنـاح
  تَـرى بِـجـوازهِ الـحُـكّــامُ طـرّاً
        وفـي أعْـنـاقِـهـم ذاك الـنّـكـاحُ
الحل : الزر والعروة
3)      Teka-teki dalam Cerita
Salah satu teka-teki yang terdapat dalam dialog Raja Solomon dan Ratu Sheba yaitu kisah Nabi Sulaiman dan Ratu Bilqis.
Ratu Bilqis bertanya pada Nabi Sulaiman a.s “apakah yang dimaksud dengan, 7 buah meninggalkan, 9 buah masuk, 2 buah terlibat, dan 1 buah minuman ?” Solomon membalas, “7 hari wanita menstruasi, 9 bulan kehamilan, 2 buah payudara menyusui, memberikan 1 minuman kepada si anak.
b.      Teka-teki Indonesia
Di Indonesia, teka-teki sendiri sudah berkembang dari zaman dahulu di tiap-tiap wilayah nusantara. Teka-teki di Nusantara juga hadir dalam berbagai bentuk.
Di Jawa, teka-teki bernama Cangriman, Wangsalan, dan Tembang. Cangkriman adalah pertanyaan tradisional yang membutuhkan terkaan. Cangkriman cukup menggelitik dan membuka wawasan pikiran. Contoh : Abang-abang dudu kidang, pesegi dudu pipisan (merah bukan kijang, pesegi bukan alat penggiling jamu). Jawaban: batu bata. Wangsalan adalah semacam “cangkriman” yang teka-tekinya terdapat pada anak kalimat atau pada kalimat pertama, kemudian jawabannya ketemu pada kalimat ke dua Contoh : Jenang sela, wader kalensesondheran. Apuranta, yen wonten lepat kawula. Tembang pucung adalah alah satu dari 12 puisi jawa (tembang macapat) yang sangat sederhana sekali yang perkembangan dari tembang ini merujuk kepada hal-hal lucu atau parikan atau bedhekan (tebakan). Contoh : Bapak pucung, Dudu watu dudu gunung, Sabamu ing alas, Ngon-ingone Sang Bupati, Prapteng marga, Si pucung lembehan grana (Gajah yang dimaksud)
Istilah bahasa Sunda untuk teka-teki adalah tatarucingan. Contohnya: Siduru bari luluncatan, heunteu siduru hees. (Jika menghadapi api melonjak-lonjak, jika tidak ia tidur). Jawabannya adalah Kipas Sate.
Istilah bahasa Bali untuk teka-teki adalah cicempedan, cecangkriman, dan bladbadan. Contohnya : Naon ke ulung nyaputin ibana? (Apa yang menetupi dirinya dengan selimut ketika jatuh? Durian.[9]
Selain daerah daerah tersebut, masih banyak daerah yang memiliki versi dan aturan tersendiri untuk istilah teka-teki rakyat.






[1] Danandjaja, 1998
[2] Danandjaja, 2002;21
[3] Sukatman 2009
[4] Danadjaja, 33
[5] Sukatman 2009
[6] Asykalus Sya’bi 156
[7] Ibid, 33
[8] Ibid, 45-46
[9] Ibid, 44

Komentar

Postingan populer dari blog ini

“PLURALISME DAN MULTIKULTURALISME DI INDONESIA”

SOSIALISME DALAM SASTRA ARAB (NOVEL-NOVEL REALISME & PUISI-PUISI KARYA BADR SHAKIR AS SAYYAB)