Arek Cilik & Nyai Buto: Mitos berbungkus Dongeng Pengantar Tidur

Arek Cilik & Nyai Buto: Mitos berbungkus Dongeng Pengantar Tidur
Maulania Safira

            Jika membahas tentang cerita rakyat, dongeng masa kecil, atau mitos, yang terbesit dalam benak saya adalah cerita Nyai Buto dan anak kecil yang sering almarhum bu de ceritakan untuk kami, keponakan beliau. Ceritanya sederhana dan mengundang rasa takut sekaligus tawa. Seperti halnya dongeng dan cerita-cerita rakyat lainnya, dongeng yang satu ini juga tidak diketahui siapa pengarang atau dari mana asalnya. Yang saya tahu, kami tumbuh bersama dongeng dan mitos ini. Entah bagaimana dongeng ini bisa berkembang dan sampai ke telinga kami. Mitos ini mungkin terdapat versi-versi lainnya di berbagai daerah di tanah Jawa. Konon, cerita-cerita ini merupakan identitas rakyat jawa yang memang gemar bercerita dan bernyanyi. Kisah-kisah diciptakan sekedar untuk mengisi waktu luang, dongeng pengantar tidur, hingga sebagai media sosial dan edukasi yaitu menyampaikan pesan-pesan tersirat pada sesama.
            Menurut (James Danandjaja, 2007: 83) dongeng adalah cerita pendek yang disampaikan secara lisan,  dimana dongeng adalah cerita prosa rakyat yang dianggap tidak benar-benar terjadi. Pada masanya, dongeng adalah hiburan yang paling hebat, menarik dan menyenangkan. Sampai sekarang, walaupun tidak hebat, paling tidak masih dirasakan sebagai kenangan yang menyenangkan. Cerita yang dituturkan bukan suatu beban yang harus dihafalkan, tetapi lebih sebagai hiburan yang menyenangkan, hiburan sederhana namun dapat meresap ke hati. Tidak jarang kita masih mengingat detail cerita dan mengidolakan tokoh-tokoh didalamnya.
Sedangkan mitos adalah Mitos adalah cerita prosa rakyat yang ditokohi para dewa atau makhluk setengah dewa yang terjadi di dunia lain(kayangan) dan dianggap benar – benar terjadi oleh empunya cerita atau penganutnya. Mitos pada umumnya menceritakan tentang terjadinya alam semesta, dunia, bentuk khas binatang, bentuk topografi, petualangan para dewa, kisah percintaan mereka dan sebagainya (James Danandjaja, 2007: 47). Mitos adalah cerita prosa rakyat yang menceritakan kisah berlatar masa lampau, mengandung penafsiran tentang alam semesta dan keberadaan makhluk di dalamnya, serta dianggap benar-benar terjadi oleh yang empunya cerita atau penganutnya.
            Dongeng Nyai buto ini berlatarkan di salah satu barongan (semak belukar) di sebelah rumah kami. Dongengnya mengisahkan tentang seorang anak kecil yang bermain hingga petang lalu tersesat di barongan tersebut. Konon, dahulu disana terdapat gua. Dalam gua tersebut hidup seorang buto (raksasa) perempuan yang  berbentuk wewe gombel. Orang memanggilnya Nyai Buto. Nyai buto suka menculik anak kecil yang nakal. Cerita Nyai Buto versi masa kecil saya ini sekaligus mewakili tiga bentuk sastra lisan, yaitu dongeng, mitos, dan mantra/puisi rakyat. Dalam penyampaian ceritanya selalu diselingi diaolg-dialog lucu bernada seperti syair atau mantra. Berikut detail yang saya ingat. Permulaan cerita selalu diawali “Ing sawijining dino” (Pada suatu hari).
            Ing sawijining dino, ono arek cilik dolan nganti maghrib. Ora gelem mantuk. Pas liwat ngarepe barongan (iku), dumadak kesasar ugo ketemu Nyai Buto rupo wewe gombel. Banjur Nyai Buto ngomong :
“He... Arek Cilik!!!” (bernada)
“Nopo Nyai Buto?” (bernada)
“Ayo melu aku!!!” (bernada)
Arek cilik mau dikempit ndek keleke wewe gombel mau banjur nyanyi,
“Tak enconet enet, Tak enconet enet, ono arek cilik nak kenconet...dst (saya lupa detailnya) gembulu opo gadhu wak kenconet” (bernada)
Ndek jero guo, arek cilik mau dikongkon mangan ta*ek rupo panganan seng enak-enak, nek ora gelem mung dipekso sampe gelem.
Wong tuone arek cilik lan wong-wong kampung podo nggoleki.  Wong-wong podho keliling kampung karo nabuhi panci goleki arek cilik iku mau. Supoyo butone krungu banjur joget-joget. Wewe gombele joget banjur akhire arek iku mau logor soko kempitan keleke nyai buto. Tamat.
            Singkatnya seperti itu. Saat itu, dongeng yang dikisahkan pada kami lebih panjang, dengan detail alur dan dialog yang lebih banyak. Dongeng tersebut selalu disampaikan berulang-ulang, bahkan hampir tiap hari dengan karakter yang berbeda namun muatan yang tetap sama.  Terkadang kisah dengan anak yang berbeda, kenakalan yang berbeda, atau setting yang berbeda. Namun pada intinya, dongeng tersebut berisi tentang mitos wewe gombel, yaitu salah satu jenis jin yang dipercaya suka menculik anak-anak kecil yang bermain sampai petang. Dan untuk mengembalikan anak hilang tersebut, orang-orang harus menabuh panci agar si anak kembali.
            Dongeng tersebut berisi mitos orang jawa tentang wewe gombel. Pada dasarnya mitos ini berisi nasihat tentang tidak diperbolehkannya anak kecil bermain waktu petang (maghrib), karena waktu tersebut adalah waktu untuk beribadah dan belajar di rumah. Hanya saja, nasihat disampaikan dengan cara yang berbeda, dengan pernak-pernik takhayyul agar menimbulkan rasa takut, persuasif dan hasil yang lebih efektif.

            Mitos ini berkembang dan dikemas dalam bentuk yang berbeda-beda seperti yang saya terima, yaitu disampaikan dalam bentuk dongeng sebelum tidur. Begitulah ciri khas sastra lisan, ia akan berkembang dari mulut ke mulut, yang dengan demikian tidak melepas kemungkinan akan terjadi sedikit perubahan dalam detail isi maupun ragam bentuknya, namun tetap dengan muatan yang sama. Yakni mengandung nilai-nilai yang bermanfaat, nilai estetik, agama,sosial maupun universal.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TEKA-TEKI RAKYAT (PERTANYAAN TRADISIONAL)

“PLURALISME DAN MULTIKULTURALISME DI INDONESIA”

SOSIALISME DALAM SASTRA ARAB (NOVEL-NOVEL REALISME & PUISI-PUISI KARYA BADR SHAKIR AS SAYYAB)