SOSIALISME DALAM SASTRA ARAB (NOVEL-NOVEL REALISME & PUISI-PUISI KARYA BADR SHAKIR AS SAYYAB)
MAKALAH
SOSIALISME
DALAM SASTRA ARAB (NOVEL-NOVEL REALISME & PUISI-PUISI KARYA BADR SHAKIR AS SAYYAB)
Makalah
ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Adab A-Mu’ashiroh
Dosen
Pengampu : Anwar Mas’adi, M.Pd
![]() |
Disusun
oleh :
Rofi’atul
Karimah (14310114)
Siti
Rahmawati (14310023)
Maulania
Safira (14310052)
Sofi
Nafisah Hariri (14310064)
JURUSAN
BAHASA DAN SASTRA ARAB
FAKULTAS
HUMANIORA
UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
2017
KATA
PENGANTAR
Puji
syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan melimpahkan rahmat, hidayah,
taufiq, serta ma’unah-Nya, sehingga kami dapat menyusun makalah ini. Sholawat
serta salam selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW.
Alhamdulillah makalah berjudul “Sosialisme
Dalam Sastra Arab (Novel-novel Realisme dan Puisi-Puisi Karya Bard Shakir As
Sayyab)” ini dapat kami selesaikan. Makalah ini tidak akan selesai tanpa
dukungan dari berbagai pihak. Karena itu, ucapan terima kasih yang
sebesar-besarnya kami sampaikan kepada ;
1)
Ustadz Anwar Mas’adi, selaku dosen pengampu
mata kuliah Adab Al Muashiroh
2)
Teman-teman sejawat yang telah membantu dan
mendukung terselesaikannya makalah ini
3)
Semua pihak yang terlibat dalam pemnyusunan
makalah ini.
Dalam
penulisan makalah ini tentunya tidak luput dari kekurangan dan kesalahan. Untuk
itu, kami memohon maaf dan menerima kritik dan saran dari para pembaca.
Akhirnya,
kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat dan dapat enggugah semangat
untuk menimba ilmu dan ibadah bagi segenap pembaca.
Malang, 28 Oktober 2017
Penulis.
DAFTAR
ISI
Kata
Pengantar.............................................................................................ii
Daftar
isi.....................................................................................................iii
Bab I
: Pendahuluan
1.2
Latar
Belakang.......................................................................................4
1.3
Rumusan masalah..................................................................................5
1.4
Tujuan dan
Manfaat...............................................................................6
Bab II
: Pembahasan
2.1
Sosialisme dalam Sastra (Aliran Realisme Sosialis) ............................7
2.2
Realisme Sosialis dalam Sastra
Arab....................................................8
2.3
Biografi Badr Syakir As
Sayyab..........................................................10
2.4
Puisi Realisme Badr Syakir As Sayyab...............................................11
Bab
III : Penutup
3.1
Kesimpulan..........................................................................................17
3.2
Kritik dan Saran...................................................................................17
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Secara historis
sosialisme mempunyai gagasan yang menuntut adanya pemerintahan yang lebih baik
dan berusaha membuktikan kepada kelompok kaya dan pemilik modal bahwa
eksploitasi itu tidak bermoral. Sosialisme pada awalnya adalah sebuah reaksi
minoritas terhadap pelaksanaan etika kapitalis dan pengembangan masyarakat
industri. Sosialisme merupakan produk dari perubahan-perubahan sosial yang
mengubah masyarakat-masyarakat Eropa di akhir abad kedelapan belas dan
kesembilan belas. Inti dari sosialisme bukanlah semata-mata bahwa produksi itu
harus dipusatkan di tangan negara itu harus seluruhnya merupakan peran ekonomi,
di dalam masyarakat sosialis, pengelolaan atau tata pelaksanaan ekonomi harus
menjadi tugas dasar negara.
Realisme sosialis adalah salah satu aliran
dalam sosialisme yang bergerak dalam kancah sastra atau kesenian. Aliran
ini lahir dari filsafat sosialisme Rusia yang berhaluan sosialis komunis dan
menjalar pada dunia seni dan sastra. Semangat realisme sosialis ialah
untuk memenangkan sosialisme di tengah masyarakat dan untuk menyebarkan idologi
sosialisme dengan medium karya sastra. Maka di dalam sastra
aliran realisme-sosialis menjadi realitas masyarakat, terutama sumber
inspirasi untuk membuat karya sebagai cerminan realitas sosial masyarakatnya.
Yang dimaksud dengan realitas masyarakat ialah kaum proletar, dan di
atas pundak kaum sastrawan realisme sosialis tertanam tanggung jawab yang tidak
ringan itu diemban untuk memberikan penyadaran kepada masyarakat yang tertindas
sehingga masyarakat tersebut berjuang untuk melawan sistem patriarkat dan
terbebaskan. Bisa dikatakan induk dari realisme sosialis adalah
sosialisme, yang di cetuskan oleh seorang filosof bernama Karl Marx.
Di Arab sendiri, aliran sosialisme dalam
karya sastra dipelopori oleh Nagib Mahfudz. Ia menganalisis kelas borjuis dan
proletar Mesir berdasarkan pendapat dan klasifikasi Marxis, namun tidak ada
hubungannya dengan komunisme. Naguib Mahfudz membuka jalan bagi realisme Arab.
Seperti yang tercermin dalam karya-karyanya, termasuk New Cairo pada tahun
1945, Khan al-Khalili pada tahun 1946, Pada tahun 1947, "fatamorgana"
pada tahun 1948, "awal dan akhir" 1949, dan kemudian trilogi:
"antara Kasrins", "Kasr al-Shawq" dan
"al-Sukkariyya". Realisme muncul dalam karya-karya ini,
Selaras dengan
Nagib Mahfoudz, banyak sastrawan arab yang juga mengikuti aliran ini. Salah
satunya Badr Syakir al-Sayyab (1926-1964). Ia adalah salah seorang penyair
terbesar dalam kesusastraan Arab yang turut memberikan sumbangan eksperimen
dalam upaya pembaharuan puisi Arab modern. Pada akhir tahun 1940-an, ia bersama
Nazik al-Malaikah, menggembar-gemborkan gerakan puisi bebas (al-Syi'r al-
Hurr). Diantara puisi al-Sayyab yang terkenal adalah Unshudatul Mathar (Nyanyian
Hujan). Oleh karena itu, dalam makalah
ini penulis akan membahas tentang Sosialisme Sastra Arab dalam Puisi-puisi
realisme karya Badr Syakir As Sayyab.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1
Bagaimana bentuk sosialisme dalam sastra? Apa
itu Aliran Realisme Sosialis?
1.2.2
Bagaimana perkembangan aliran realisme
sosialis dalam sastra Arab? Bagaimanakah bentuk-bentuk novel realisme sosialis
yang muncul?
1.2.3
Siapakah Badr Syakir As Sayyab?
1.2.4
Bagaimanakah salah satu puisinya yang
menggambarkan realitas sosial di Arab?
1.3 Tujuan dan Manfaat
Tujuan yang ingin dicapai dalam makalah
ini adalah untuk mendeskripsikan Sosialisme Dalam Sastra Arab (Novel-novel
Realisme dan Puisi-Puisi Karya Bard Shakir As Sayyab)
Manfaat
yang dapat diperoleh dalam penulisan makalah ini adalah penulis dan pembaca dapat
memperoleh pengetahuan dan pemahaman tentang Sosialisme Dalam Sastra Arab
(Novel-novel Realisme dan Puisi-Puisi Karya Bard Shakir As Sayyab) serta memberikan
sumbangsih keilmuan bagi akademisi khususnya pengetahuan tentang sastra realis
Arab.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Sosialisme dalam Sastra (Aliran Realisme
Sosialis)
Aliran sastra ini
lahir pertama kali di Uni Soviet (sekarang Rusia) sebagai penerapan sosialisme
di bidang kreasi-sastra. Sastra yang mempergunakan metoda ditujukan untuk
memenangkan sosialisme dan lebih penting lagi adalah dengan sikap politik yang
tegas, militan, kentara, tidak perlu malu-malu kucing atau sembunyi-sembunyi,
sesuai dengan nama yang dipergunakannya.[1]
Istilah itu digunakan
pertama kali pada tahun 1905 di Uni Soviet. Realisme sosialis muncul dalam
sebuah artikel anonim, yang berjudul “Catatan tentang Philistinisme”. Setelah
munculnya tulisan tersebut—yang disebarluaskan untuk menentang pemerintah
berhubungan dengan peristiwa “Minggu Berdarah” pada tanggal 22 Januari
1905—satrawan Maxim Gorky kemudian ditangkap, tetapi tidak lama kemudian
dilepas karena membanjirnya protes-protes internasional atas penangkapannya.[2]
Realisme sosialis
adalah salah satu aliran dalam sosialisme yang bergerak dalam kancah sastra
atau kesenian. Aliran ini lahir dari filsafat sosialisme Rusia yang
berhaluan sosialis komunis dan menjalar pada dunia seni dan
sastra. Semangat realisme sosialis ialah untuk memenangkan sosialisme di
tengah masyarakat dan untuk menyebarkan ideologi sosialisme dengan medium karya
sastra. Maka di dalam sastra aliran realisme sosialis menjadi realitas
masyarakat, terutama sumber inspirasi untuk membuat karya sebagai cerminan
realitas sosial Masyarakatnya. Yang di maksud dengan realitas masyarakat ialah
kaum proletar, dan di atas pundak kaum sastrawan realisme sosialis
tertanam tanggung jawab yang tidak ringan itu diemban untuk memberikan
penyadaran kepada masyarakat yang tertindas sehingga masyarakat tersebut
berjuang untuk melawan sistem patriarkat dan terbebaskan. Bisa dikatakan induk
dari realisme sosialis adalah sosialisme, yang di cetuskan oleh seorang filosof
bernama Karl Marx.
Kajian realisme sosialis menggambarkan pertentangan
antara kelas proletar dan kelas borjuasi. Menurut tokoh-tokohnya, realisme
sosialis merupakan bagian integral dari kesatuan mesin perjuangan umat manusia
dalam menghancurkan penindasan dan pengisapan atas rakyat pekerja, yakni buruh
dan tani, dalam menghalau imperialisme (penjajahan) dan kolonialisme
(golongan), untuk meningkatkan kondisi dan situasi rakyat pekerja diseluruh
dunia.
2.2 Aliran
dan bentuk novel Realisme Sosialis dalam Sastra Arab
Di Arab, khususnya di
Mesir. Pada saat itu, paham sosialisme masyarakat dapat dibagi menjadi dua
bentuk, sayap kiri dan sayap kanan. Sayap kiri (Siad Barre, Haji Misbach, Ali Syariati, Yasser Arafat dan Jalal Al-e Ahmad)
mendukung internasionalisme proletarian sekuler dan mendorong Muslim untuk
bergabung atau berkolaborasi dengan sosialis internasional atau gerakan Marxis.
Sosialis sayap kanan (Muhammad Iqbal, Agus Salim, Jamal-al-Din Afghani, Musa al-Sadr, dan Mahmud Shaltut) secara
ideologi lebih dekat ke posisi ketiga, tidak hanya
mendukung keadilan sosial, masyarakat egalitarian dan persamaan universal, tapi
juga revivalisme Islam dan implementasi Syariah.
Mereka juga menolak penggunaan perjuangan kelas dan
tetap menjaga jarak dengan gerakan sosialis lainnya.[3]
Dalam
kenyataannya, kaum Marxis Arab pada khususnya tidak terlalu peduli dengan teori
sastra Marxis, mereka hanya meminjam dari Marxisme sesuatu yang paling melekat
dalam kehidupan mereka, realisme sosial. Adakah sosialisme yang berhasil
dicapai dengan kenyataan ini, realisme adalah arus paling menonjol yang
meninggalkan kaum kiri Arab, Yang dikombinasikan dengan kategori berbeda waktu
penulis, penulis dan penyair tidak menghubungkan mereka menghubungkan teori
Marxis, baik dalam literatur atau lainnya. [4]
Di Arab sendiri, aliran sosialisme
dalam karya sastra dipelopori oleh Nagib Mahfudz. Ia menganalisis kelas
borjuis dan proletar Mesir berdasarkan pendapat dan klasifikasi Marxis, namun
tidak ada hubungannya dengan komunisme. Naguib Mahfudz membuka jalan bagi
realisme Arab. Seperti yang tercermin dalam karya-karyanya, termasuk New Cairo
pada tahun 1945, Khan al-Khalili pada tahun 1946, Pada tahun 1947,
"fatamorgana" pada tahun 1948, "awal dan akhir" 1949, dan
kemudian trilogi: "antara Kasrins", "Kasr al-Shawq" dan
"al-Sukkariyya". Realisme muncul dalam karya-karya ini.[5]
Tapi mungkin benih
realisme Arab sudah ada di era pra-Naguib Mahfouz, dan sampai pada revolusi
Mesir tahun 1919, yang menciptakan semacam kecenderungan realistis dalam
tulisan-tulisan para punggawa dari "sekolah modern", seperti Mohamed
Timor, Realisme dicampur dengan romantisme yang melekat, atau yang telah
bergabung dengan kelas menengah seperti Mahmoud Taher Lashin dan Issa Obeid.
Realisme mengalami ledakan
besar di tahun 1950an dan 1960an, mengikuti berkembangnya gerakan nasionalis
dan golongan kiri pada umumnya. Sastra realistik mulai jelas karakter dan
kecenderungannya. Di Irak, majalah Al-Tariq dan majalah Budaya Nasional
membawa seruan untuk literatur ini dan menerbitkan banyak produknya. Sejak
tahun 1940an, adalah Omar Fakhoury, Ra'if Khoury dan Hussein Marwa, sang
penulis. Kritikus sastra Marxis yang banyak menulis tentangnya. Di Lebanon, dan
mungkin wilayah Arab lainnya, ada yang menarik perhatian, yaitu fakta bahwa
banyak penulis dan novelis yang menulis dalam kerangka realisme tidak semua
orang Marxis, namun sebagian besar dari mereka berasal dari arus intelektual
lainnya di garis depan tren nasionalis Arab. Misalnya, majalah sastra
Lebanon bukan penganut Marxis. Namun, ia telah menerbitkan banyak artikel,
penelitian dan cerita tentang kecenderungan realistis.
2.3 Biografi Badr Syakir As-Sayyab
Bader Shaker Sayab
adalah seorang penyair Irak, salah satu penyair terkenal di abad ke-20, lahir
di desa Gekor di Basra pada tanggal 25 Desember 1929. Ibunya meninggal ketika
ia berusia enam tahun, kematian ibunya mengguncang dirinya. Ia sempat
mengakhiri studinya dalam bahasa Arab. Kemudian ia menekuni bahasa Inggris,
terkenal dengan kecenderungan untuk politik dan Partai Komunis, dipisahkan dari
bekerja sebagai guru bahasa Inggris, dan pindah ke Iran dan Kuwait, karena
kemudian kudeta. [6]
Badr al Sayyab
(Jaykur, dekat Basra 24 Desember 1926 – Kuwait 24 Desember 1964) adalah penyair
terkemuka Irak, dikenal di seluruh dunia Arab dan salah satu penyair Arab
paling berpengaruh sepanjang masa. Karya-karyanya telah diterjemahkan dalam lebih dari 10 bahasa termasuk
bahasa Inggris, Persia, Somalia, dan Urdu.
Badr meninggal
secara tragis pada usia awal 38 tahun, namun dalam kehidupannya yang singkat,
dia bertanggung jawab atas revolusi wholesaling dalam puisi Arab melalui
eksperimen puitis dan inovasi pada saat kekacauan besar di dunia Arab - akhir
dari Perang Dunia Kedua dan penciptaan Israel Bakat Al-Sayyab mengizinkannya
menulis puisi yang benar-benar baru, baik dalam bentuk maupun isi,
menjungkirbalikkan metrik puisi Arab klasik. Dia menggambar tentang mitologi
kuno Irak dan Yunani dan menulis tentang isu-isu kompleks dalam bahasa
sederhana dengan citra yang kuat.
Dia sangat
dipengaruhi oleh penyair romantis Inggris, terutama Keats, Shelley, Byron dan
Wordsworth, namun terutama oleh orang sezamannya dalam semangat Edith Sitwell
(1887-1964) dan TS Eliot (1888-1965), keduanya telah menerbitkan ground-
memecahkan koleksi sebelum kelahiran al-Sayyab (Sitwell's Façade dan Eliot's
Waste Land).
Bersama dengan
sesama penyair Irak lainnya, Nazik al-Malai'ka dan Abdul Wahab al-Bayati,
gerakan puisi bebas Arab mulai menguasai pasar. Ia berhasil mendobrak
kususastraan melalui tujuh koleksi Al-Sayyab yang diterbitkan pada tahun 1950an
dan awal 1960an, terutama puisi yang sekarang terkenal " Song of Rain
"dari koleksi ketiganya tahun 1960. Hal ini dianggap oleh para kritikus
dan pembaca Arab sampai sekarang menjadi koleksi puisi Arab modern yang paling
penting.[7]
2.4 Puisi Realisme Badr
Syakir As Sayyab
|
NYANYIAN
HUJAN
(Badr Syâkir as-Sayyâb) Dua matamu adalah dua rumpun pohon kurma di fajar buta Atau dua beranda yang darinya rembulan surut.tenggelam Ketika tersenyum, Dua matamu bagai pohon-pohon anggur yang bersemi Dan cahaya berdansa seperti rembulan dalam sungai Yang digoncang oleh dayung di fajar buta.. Seolah, dalam kedalamannya, bintang-bintang berdegub Mereka tenggelam di awan tebal dari kesedihan yang dalam Seperti lautan di mana sore senja melepaskan dua tangan di atasnya. Hangat musim dingin dan diikuti gigil musim gugur, Kematian, kelahiran, kegelapan dan cahaya. Isak tangis kembali meronta di sepenuh jiwaku Sorah liar memeluk angkasa Seperti hiruk pikuk anak kecil terkejut takut oleh rembulan. Seolah busur awan menenggak halimun/kabut.. Dan tetes demi tetes meleleh dalam hujan.. Anak-anak kecil melepas tawa di bawah terali rambatan pohon anggur Dan nyanyian hujan Menggelitik ketenangan burung-burung di atas pohon Hujan Hujan Hujan Senja menguap, dan arak mendung Masih deras mengucurkan air mata beratnya Seperti anak kecil menyeloteh sebelum tidur di malam gelap Tentang ibunya – yang tak ditemukannya saat terbangun setahun yang lalu, Kemudian ketika ia masih bertanya terus, mereka menjawab: “Esok lusa ibumu akan kembali-” Dan ia harus kembali Namun kawan-kawannya berbisik, ibunya ada Di lereng bukit sedang tergolek di pusara Menelan debunya dan menenggak air hujan; Bak nelayan yang sedih memungut jala-jalanya Sembari mengutuk air dan takdir Lalu menaburkan nyanyian di mana bulan tenggelam. Hujan, Hujan.. Tahukah engkau kesedihan apa yang dikirim oleh hujan? Dan bagaimana talang terisak kala hujan mengucur? Dan bagaimana orang yang sendirian merasakan kehilangan di dalamnya? Hujan turun tak henti: seperti darah yang tertumpah, Seperti kelaparan, cinta, anak kecil, dan mayat- Itulah hujan Kedua matamu datang seperti khayalan bersama hujan, Dan di tepi ombak teluk, kilat mengusap Di pantai-pantai Irak Bersama gemintang dan kulit-kulit kerang Seolah mereka hendak bercahaya Namun malam menyelimutinya dengan kemul darah Aku berteriak memanggil teluk, "Wahai teluk, Wahai pemberi mutiara, kulit-kulit kerang dan mayat kematian!" Lalu suara itu menggema seperti membunyikan: "Wahai teluk: Wahai pemberi kulit-kulit kerang dan mayat kematian" Hampir-hampir aku mendengar Irak menyimpan halilintar Dan menimbun kilat di bukit dan dataran Hingga ketika orang-orang membuka tutupnya Angin-angin tak kan membiarkan kaum Tsamud Satu jejak pun di lembah itu Hampir saja aku mendengar pohon-pohon kurma menenggak air hujan Dan mendengar perkampungan merintih, dan para pelancong Bergulat dengan dayung dan layar Melawan badai dan guruh teluk, sembari mereka bernyanyi: ”Hujan . . . Hujan . . . Hujan Dan di Irak ada kelaparan! Musim paling subur menyebar hasil panennya Hingga burung-burung gagak dan belalang kekenyangan karenanya Lumbung-lumbung dan bebatuan menumbuk tak hentinya Dan mesin-mesin penggiling terus berputar di ladang-ladang... dijalankan banyak orang Hujan . . . Hujan . . . Hujan . . . Betapa sering air mata kita tumpahkan, di malam keberangkatan, Lalu hujan kita buat alasan –karena takut dikecam- Hujan Hujan Sejak kita kecil, langit Mendung berawan di musim dingin, Dan hujan turun dengan lebatnya, Namun setiap tahun –kala tanah yang basah tumbuh bersemi- kita justru kelaparan. Tak satu tahun pun beralu tanpa Irak mengalami kelaparan. Hujan Hujan Hujan Di setiap tetes air hujan Ada sekuncup merah atau kuning kembang, Setiap tetes darah orang-orang yang kelaparan dan telanjang Dan setiap tetes darah yang mengucur dari hamba sahaya Adalah senyuman dalam sebuah penantian bibir-bibir baru atau puting susu merah mawar di mulut bayi di alam muda esok hari yang memberi kehidupan Hujan Hujan Hujan Irak akan tumbuh bersama hujan” Aku berteriak memanggil teluk, "Wahai teluk, Wahai pemberi mutiara, kulit-kulit kerang dan mayat kematian" Lalu suara itu menggema seperti membunyikan: "Wahai teluk: Wahai pemberi kulit-kulit kerang dan mayat kematian" Dari pemberiannya yang tak terbilang teluk menaburkan di atas pasir: buih asin, kulit kerang, Dan sisa tulang-tulang sial dari para pendatang malang yang tenggelam dan mayatnya menenggak air dari teluk dan dasarnya, Sementara di Irak seribu ular menikmati minuman lezat Dari sekuntum bunga yang diharumkan oleh sungai Euphrat bersama embun Aku mendengar gema Menggaung di teluk itu: ”Hujan Hujan Hujan Di setiap tetes air hujan Ada sekuncup merah atau kuning kembang, Setiap tetes darah orang-orang yang kelaparan dan telanjang mengalir Dan setiap tetes darah yang mengucur dari hamba sahaya Adalah senyuman dalam sebuah penantian bibir-bibir baru atau puting susu merah mawar di mulut bayi di alam muda esok hari yang memberi kehidupan” |
أنشودة المطر
– بدر شاكر السياب
عيناكِ غابتا
نخيلٍ ساعةَ السحَرْ ،
أو شُرفتان
راح ينأى عنهما القمر .
عيناك حين
تبسمان تورق الكرومْ
وترقص الأضواء
… كالأقمار في نهَرْ
يرجّه المجذاف
وهْناً ساعة السَّحَر
كأنما تنبض في
غوريهما ، النّجومْ …
وتغرقان في
ضبابٍ من أسىً شفيفْ
كالبحر سرَّح
اليدين فوقه المساء ،
دفء الشتاء
فيه وارتعاشة الخريف ،
والموت ،
والميلاد ، والظلام ، والضياء ؛
فتستفيق ملء
روحي ، رعشة البكاء
ونشوةٌ
وحشيَّةٌ تعانق السماء
كنشوة الطفل
إِذا خاف من القمر !
كأن أقواس
السحاب تشرب الغيومْ
وقطرةً فقطرةً
تذوب في المطر …
وكركر
الأطفالُ في عرائش الكروم ،
ودغدغت صمت
العصافير على الشجر
أنشودةُ المطر …
مطر …
مطر …
مطر …
تثاءب المساء
، والغيومُ ما تزالْ
تسحُّ ما تسحّ
من دموعها الثقالْ .
كأنِّ طفلاً
بات يهذي قبل أن ينام :
بأنَّ أمّه –
التي أفاق منذ عامْ
فلم يجدها ،
ثمَّ حين لجّ في السؤال
قالوا له :
“بعد غدٍ تعودْ .. “
لا بدَّ أن
تعودْ
وإِنْ تهامس
الرفاق أنهَّا هناكْ
في جانب التلّ
تنام نومة اللّحودْ
تسفّ من
ترابها وتشرب المطر ؛
كأن صياداً
حزيناً يجمع الشِّباك
ويلعن المياه
والقَدَر
وينثر الغناء
حيث يأفل القمرْ .
مطر ..
مطر ..
أتعلمين أيَّ
حُزْنٍ يبعث المطر ؟
وكيف تنشج
المزاريب إِذا انهمر ؟
وكيف يشعر
الوحيد فيه بالضّياع ؟
بلا انتهاء –
كالدَّم المراق ، كالجياع ،
كالحبّ ،
كالأطفال ، كالموتى – هو المطر !
ومقلتاك بي
تطيفان مع المطر
وعبر أمواج
الخليج تمسح البروقْ
سواحلَ العراق
بالنجوم والمحار ،
كأنها تهمّ
بالشروق
فيسحب الليل
عليها من دمٍ دثارْ .
أَصيح بالخليج
: ” يا خليجْ
يا واهب
اللؤلؤ ، والمحار ، والرّدى ! “
فيرجعُ الصّدى
كأنّه النشيجْ :
” يا خليج
يا واهب
المحار والردى .. “
أكاد أسمع
العراق يذْخرُ الرعودْ
ويخزن البروق
في السّهول والجبالْ ،
حتى إِذا ما
فضَّ عنها ختمها الرّجالْ
لم تترك
الرياح من ثمودْ
في الوادِ من
أثرْ .
أكاد أسمع
النخيل يشربُ المطر
وأسمع القرى
تئنّ ، والمهاجرين
يصارعون
بالمجاذيف وبالقلوع ،
عواصف الخليج
، والرعود ، منشدين :
” مطر …
مطر …
مطر …
وفي العراق
جوعْ
وينثر الغلالَ
فيه موسم الحصادْ
لتشبع الغربان
والجراد
وتطحن الشّوان
والحجر
رحىً تدور في
الحقول … حولها بشرْ
مطر …
مطر …
مطر …
وكم ذرفنا
ليلة الرحيل ، من دموعْ
ثم اعتللنا –
خوف أن نلامَ – بالمطر …
مطر …
مطر …
ومنذ أنْ
كنَّا صغاراً ، كانت السماء
تغيمُ في
الشتاء
ويهطل المطر ،
وكلَّ عام –
حين يعشب الثرى – نجوعْ
ما مرَّ عامٌ
والعراق ليس فيه جوعْ .
مطر …
مطر …
مطر …
في كل قطرة من
المطر
حمراءُ أو
صفراء من أجنَّة الزَّهَرْ .
وكلّ دمعةٍ من
الجياع والعراة
وكلّ قطرة
تراق من دم العبيدْ
فهي ابتسامٌ
في انتظار مبسم جديد
أو حُلمةٌ
تورَّدتْ على فم الوليدْ
في عالم الغد
الفتيّ ، واهب الحياة !
مطر …
مطر …
مطر …
سيُعشبُ
العراق بالمطر … “
أصيح بالخليج
: ” يا خليج ..
يا واهب
اللؤلؤ ، والمحار ، والردى ! “
فيرجع الصدى
كأنَّه النشيج :
” يا خليج
يا واهب
المحار والردى . “
وينثر الخليج
من هِباته الكثارْ ،
على الرمال ،
: رغوه الأُجاجَ ، والمحار
وما تبقّى من
عظام بائسٍ غريق
من المهاجرين
ظلّ يشرب الردى
من لجَّة
الخليج والقرار ،
وفي العراق
ألف أفعى تشرب الرَّحيقْ
من زهرة
يربُّها الفرات بالنَّدى .
وأسمع الصدى
يرنّ في
الخليج
” مطر ..
مطر ..
مطر ..
في كلّ قطرة
من المطرْ
حمراء أو
صفراء من أجنَّةِ الزَّهَرْ .
وكلّ دمعة من
الجياع والعراة
وكلّ قطرةٍ
تراق من دم العبيدْ
فهي ابتسامٌ
في انتظار مبسمٍ جديد
أو حُلمةٌ
تورَّدت على فم الوليدْ
في عالم الغد
الفتيّ ، واهب الحياة . “
ويهطل المطرْ ..
|
Puisi bebas (syi’ir al Hurr) ini ditulis al
Sayyab menggunakan banyak tanda yang memungkinkan tujuan sebagai bentuk kritik
pemerintahan dan menggambarkan kondisi negara Iraq pada masa kolonial Inggris
agar tidak terlibat hukum atau sesuatu yang mungkin terjadi karena mengkritik
pemerintah.[8]
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Realisme sosialis
adalah aliran sastra yang berkembang di seluruh dunia termasuk dunia Arab.
Aliran ini digunakan untuk memenangkan sosialisme di tengah masyarakat dan
menyebarkan ideologi sosialisme melalui karya sastra. Di dalam sastra
aliran realisme sosialis menjadi realitas masyarakat, terutama sumber
inspirasi untuk membuat karya sebagai cerminan realitas sosial Masyarakatnya. Yang
di maksud dengan realitas masyarakat ialah kaum proletar, dan di atas
pundak kaum sastrawan realisme sosialis tertanam tanggung jawab yang tidak
ringan itu diemban untuk memberikan penyadaran kepada masyarakat yang tertindas
sehingga masyarakat tersebut berjuang untuk melawan sistem patriarkat dan
terbebaskan. Bisa dikatakan induk dari realisme sosialis adalah
sosialisme, yang di cetuskan oleh seorang filosof bernama Karl Marx.
Aliran realisme-sosialis ini lahir di Uni Soviet (sekarang Rusia)
sebagai penerapan sosialisme di bidang sastra. Sastra yang menggunakan metode ditujukan untuk memenangkan sosialisme dengan
sikap politik yang tegas, militan, kentara atau transparan.
Badr Shakir As-Sayyab dan Najib Mahfoudzh merupakan beberapa sastrawan
dalam aliran realisme sosialis yang mengungkap realitas sosial melalui
karya-karya mereka
3.2
Kesan dan Saran
Melalui
Penjabaran makalah mengenai Sosialisme dalam Karya Sastra (Novel-novel Realisme
dan Puisi Badr Syakir As Sayyab) diharapkan kita dapat mengenal atau mengetahui
perkembangan sastra di Arab, dan memiliki pemahaman yang memadai akan
tokoh-tokoh sastra realism, serta memiliki keluasan wawasan dunia sastra.
DAFTAR PUSTAKA
Nurhidayati,
Apriana (2017) Qasidah “Unsudatul Maṭar” Li Badr Syakir Al Sayyab
: Dirasah Al Simiya'iyah 'Ala Manhaji Ferdinand De Saussure. Undergraduate
Thesis, Uin Sunan Ampel Surabaya.
http://koransulindo.com/realisme-sosialis-aliran-sastra-kaum-proletar-dunia/
https://id.wikipedia.org/wiki/Sosialisme_Islam
http://www.langue-arabe.fr الواقعية-في-الأدب-العربي-المعاصر
https://www.alineatv.com/2012/02/opini-adakah-tali-temali-sastra-dan-pemberontakan/
al-hakawati.net/arabic/Civilizations/diwanindex6a28.pdf
[1]
http://ukonpurkonudin.blogspot.co.id/2011/08/realisme-sosialis.html
[2]
http://koransulindo.com/realisme-sosialis-aliran-sastra-kaum-proletar-dunia/
[3]
https://id.wikipedia.org/wiki/Sosialisme_Islam
[5]
https://www.alineatv.com/2012/02/opini-adakah-tali-temali-sastra-dan-pemberontakan/
[7]
http://www.banipal.co.uk/contributors/269/badr-shakir-al-sayyab/
[8] Nurhidayati, Apriana (2017) Qasidah
“Unsudatul Maṭar” Li Badr Syakir Al Sayyab : Dirasah Al Simiya'iyah 'Ala
Manhaji Ferdinand De Saussure. Undergraduate Thesis, Uin Sunan Ampel
Surabaya.

Komentar
Posting Komentar