Ahmad Abu Salim Sastrawan Arab Modern Palestina

Ahmad Abu Salim
Ahmad Abu Salim adalah seorang penyair dan novelis Palestina. Ia lahir di Zarka, Yordania tahun 1965 sebagai keturunan Palestina yang bermigrasi ke Yordania pada tahun 1965. Ia pernah pernah belajar di sekolah milik PBB dan lembaga kerja di kamp pengungsian Zarka. Ia memulai pendidikan kuliahnya di Turki, lalu melakukan perjalanan ke Rusia dimana ia belajar teknik mesin di Universitas Persahabatan di Mosko dan menerima gelar Magister pada tahun 1992.[1]
Setelah tiga tahun, sebagai akibat dari kondisi politik dan ekonomi, Abu Salim mulai menulis karya-karyanya yang bertema sosial. Ahmad Abu Salim adalah anggota Jordanian Writers Association and Arab Internet Writers Union. Dia adalah seorang aktivis anti Zionisme. Ia pernah dianugerahi penghargaan Sastra Naji Nu’man. Selain itu, ia juga pernah mengikuti festival Amirus Syuaro’ dan mendapat julukan Penyair Issue[2].
Diantara Syair-syair miliknya yaitu, Petualangan Ayyub, Ketika Kita Bertemu Tepat Sebelum Rembulan Jatuh, Migrasi, Haus,  Apakah Semuanya Masih Untukku, dan Belalang. Issue-issue yang diangkat Ahmad Abu Salim adalah Al Adab Al Muqowamah (Sastra Perlawanan). Tema-tema syairnya adalah tentang Palestina. Menurut Abu Salim, Ia terikat secara emosional dengan Palestina, dan karya pertama yang ia tulis tidak jauh-jauh dari tema tersebut. Menurutnya, sastra tentang perlawanan bukanlah literatur yang kejam, namun suara tuntutan terhadap kehidupan yang layak.
Tentang gaya bahasa, sebagai seorang penyair yang telah bertahun-tahun berkutat dengan irama bahasa, Abu Salim paham benar dengan bahasa yang Ia gunakan.. Abu Salim tidak memiliki ciri khas bahasanya sendiri, tapi ia selalu berhasil membuat bahasa lebih bernilai estetik dan berhasil mencuri pembaca. Namun, yang paling nampak dari gayanya adalah kebiasaannya mengulang kata-kata atau kalimat, sekali hingga puluhan kali. Menurutnya, kata mempunyai kekuatan untuk menjebak pembaca dengan hangat.[3]
            Abu Salim telah berpartisipasi dalam berbagai konferensi dan festival di sejumlah kota-kota Arab. Ia juga telah muncul di radio, TV, dan Program jurnal Sastra. Abu Salim telah menerbitkan empat koleksi puisi (diiwan); diantaranya Strange Blood / Dam Ghorib (2005), A Cavalier’s Memoirs in the Time of Failure (2006), On the Ruins of Sodom (2008)dan I have Seen a House (2010). Dia juga menerbitkan dua novel, Zero Sense / Alhassa Sifr (2011) dan Seminal wolves (2016). Selain itu, banyak diantara karyanya, seperti antologi cerpen & antologi puisinya yang diterbitkan dalam majalah dan surat kabar.[4]
            Bagi Abu Salim, novel adalah kunci untuk memahami kehidupan, kompleksitas dan tingkah laku manusia. Ia berpandangan bahwa novel mulai berkembang menjadi filosofi kehidupan dan pertanyaan. Ia pikir novel yang paling efektif adalah mereka yang memiliki kemampuan untuk merumuskan kembali permasalahan dengan cara baru yang sesuai dengan evolusi masyarakat.
Diantara novelnya, adalah novel Al Hassa Sifr yang merupakan novel pertamanya. Kisah dalam Novel ini berhubungan dengan isu oposisi Beirut dalam perlawanan Palestina setelah invasi Israel musim 1982 dan pengusiran militan Palestina di negara-negara Arab dan runtuhnya opsi perjuangan bersenjata untuk pemulihan Palestina. Novel  ini mengangkat sebuah visi yang baru dan berbeda dalam sejarah militan Palestina. Dikemas dalam bahasa anggun, dengan memadukan antara teknik-teknik menulis naratif modern dengan teknik menulis klasik.[5]
Novel Abu Salim digambarkan kehidupan sosial, ekonomi dan politik kamp Palestina dengan cara yang sangat berani dan dalam gaya yang menarik & menyenangkan. Ia mencoba memaparkan realitas namun menyajikannya dengan cara yang berbeda dan unik, berorientasi pada reaksi pembaca melalui rangkaian kata yang ditenun menjadi peristiwa yang sangat realistis.[6]
Novel ini mengisahkan nasib rakyat Palestina yang kehilangan tanah air mereka. Tentang mereka yang lebih menyukai mimpi, daripada takdir yang harus dihadapi. Saeed, seorang pengungsi Palestina yang bangkit dari kesedihan akan kehilangan saudara, tanah air, dan melanjutkan hidup hanya untuk mencapai ambisinya. Tentang nasib sang kakak yang ditelan oleh revolusi, serta perjuangan untuk sebuah bangsa yang koyak ditelan oleh nasib Saudara, kekasih, cita, rumah, bahkan nafas, semuanya tenggelam dalam lautan pelarian diri. Mati Rasa (Zero Sense).[7]



[1] http://www.adab.com/modules.php?name=Sh3er&doWhat=ssd&shid=403
[2] http://www.kataranovels.com/novelist/احمد_ابو_سليم
[3] http://www.alquds.co.uk/?p=633866
[4] http://lifeandlegends.com/ahmed-abu-saleem/
[5] http://www.odabasham.net عرض-كتاب/31653-رواية-الحاسَّة-صفر-للشَّاعر-أحمد-أبو-سليم
[6] http://www.albosala.com/News/CultureArt/2011/12/25/ امسية_في_النقابات_لإشهار_رواية_الحاسة_صفر_للشاعر_الروائي_أحمد_أبو_سليم_
[7] https://www.goodreads.com/book/show/13098611

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TEKA-TEKI RAKYAT (PERTANYAAN TRADISIONAL)

“PLURALISME DAN MULTIKULTURALISME DI INDONESIA”

SOSIALISME DALAM SASTRA ARAB (NOVEL-NOVEL REALISME & PUISI-PUISI KARYA BADR SHAKIR AS SAYYAB)