Contoh artikel Populer | Esai Mengungkap Sosio-Kultur Masyarakat Kampung Arab
DIBALIK CADAR
Mengungkap Sosio-Kultur Masyarakat
Kampung Arab
Bau
khas kambing menusuk hidung kami, mengaduk
isi perut kami, para wartawan gadungan. Berburu informasi memang butuh
perjuangan lebih, dan bau kambing tersebut mengurungkan niat kami untuk masuk ke
sebuah restoran arab yang katanya paling tua dan berpengaruh disana. Setelah
itu, kami, para wartawan amatir melanjutkan misi kami mengorek info tentang
kampung Arab dan seluk-beluknya. Kami sempat ragu untuk masuk, karena seperti
ada acara besar disana. Orang-orang lalu-lalang, sepeda motor tertata rapi
sepanjang gang, suara ceramah menggema kesemua penjuru gang. Tapi akhirnya kami
masuk juga. Malah saat itu adalah momen yang tepat, sedang ada pengajian rutin
disana. Tak henti-hentinya mata kami melihat pemandangan yang ganjil namun
unik. Begitu kental budaya Arab disana. Cara berpakaian, seni bangunan, mata pencaharian
masyarakatnya, hingga suasananya.
Latar Belakang
terbentuknya kampung Arab
Kami
berhenti didepan sebuah rumah kecil berwarna pink. Seorang wanita lansia kami temui disana.
Ruqoyyah nama beliau. Beliau keturunan Arab. Dengan berbalut jubah pink lusuh
serta kerudung yang melingkar sekenanya, dengan senang hati beliau meladeni
kami, mahasantri UIN Malang. Tak segan-segan beliau menceritakan apa yang
beliau ketahui. “Saya sudah sejak lahir disini mbak, dan dari saya kecil disini
sudah banyak orang Arabnya, ya ndak tahu mungkin turun-temurun begitu”,
itulah jawaban polos beliau saat kami tanya tentang latar belakang terbentuknya
komunitas orang Arab di Kota Malang ini. Mungkin komunitas ini terbentuk dengan
sendirinya sejak puluhan tahun lalu, tanpa ada yang memprakarsai, masyarakat
luas menyebut daerah ini sebagai kampung Arab karena mayoritas penghuninya
adalah orang Arab. “Kami orang keturunan
Arab yang disini merasa hidup bermasyarakat seperti layaknya orang lainnya, kebiasaan-kebiasaannya
pun sama, dan tidak ada gep atau perbedaan-perbedaan yang seperti mbak
katakan tadi antara kami yang Arab dengan orang Jawa. Kami hidup rukun disini”,
lanjut beliau saat kami ajukan pertanyaan lain. “Hanya kalau seperti
pernikahaan atau arisan saja kami punya tradisi dan kumpulan sendiri. Kalau
pengajian seperti ini memang rutin diadakan. Yang ikut juga bukan kami penduduk
sini thok, juga banyak dari luar kampung”, tambah beliau.
Pluralisme di
Kampung Arab
Setelah
berpamitan pada ibu Ruqoyyah, kami pun melanjutkan perjalanan kami untuk mengetahui
informasi lebih jauh tentang kampung arab. Ada yang menarik perhatian kami saat
melewati sebuah tikungan. Seperti ada sesuatu yang janggal pada rumah tua yang
baru saja kami lewati. Kami memutuskan untuk kembali. Tak ayal, kami dikejutkan
oleh pemandangan aneh tapi nyata, ada satu keluarga Tionghoa yang hidup
ditengah-tengah masyarakat kampung Arab. Sungguh menarik. Kami memutuskan untuk
singgah dan mewawancarai seorang wanita tua pemilik rumah itu. Awalnya beliau
sedikit ragu, namun setelah kami meyakinkan, dengan senang hati beliau
mempersilahkan kami masuk ke rumah kecilnya. Irawati namanya. Beliau keturunan
tionghoa. Beliau adalah seorang Katolik. Usianya 70 tahun, terlihat dari
tampilan fisiknya. Dengan kaos putih oblong dan rok span pendek selutut, beliau
menyambut kami dengan ramah. Rambutnya yang tipis beruban dengan model cepak
sebahu terurai begitu saja. Matanya sipit, seperti kebanyakan orang Cina
lainnya. Pipinya keriput, Tubuhnya kurus kecil berkulit putih bersih.
Pendengarannya sudah mulai terganggu, sehingga beliau selalu mendekat ketika
mendengar pertanyaan kami. Dengan mengerut-ngerutkan wajahnya beliau mencoba
mencerna pertanyaan kami dan menjawabnya.
“Saya
sekeluarga sudah sejak dulu disini, ya memang saya besar disini. Banyak orang
yang heran kenapa saya sekeluarga bisa tinggal di kampung arab ini, yang
kebanyakan orangnya Arab”, jelas Bu Irawati. “Kami hidup rukun, tak ada
perbedaan. Malah tk yang didepan itu dulunya adalah rintisan keluarga saya.
Saya pun membuka toko kecil-kecilan ini, dan baik-baik saja.”, tutur beliau
sambil menunjukan tokonya. Kami takjub dengan fenomena ini. Keluarga Bu Irawati
hidup tenang ditengah tradisi orang Arab, yang sangat jauh dari tradisi mereka.
“Oh, enggak mbak. Wong rumah saya memang disini, ngapain
pindah?.”, jawab beliau ketika kami tanya apakah ada keinginan untuk pindah
dari kampung Arab. “Saudara-saudara saya yang dari jauh kalau kesini awalnya
juga takut akan diapakan gitu soalnya Arab semua. Padahal disini orangnya baik-baik”. Menurut Bu Irawati, beliau sama
sekali tidak terganggu dengan kegiatan-kegiatan pengajian rutin yang diadakan
setiap minggu di kampungnya. “Saya malah senang. Saya suka ndengerin
pengajiannya, isi ceramahnya lho bagus”, tutur beliau.
Keadaan sosial
budaya masyarakat Kampung Arab
Perjalanan
kami berlanjut di rumah bapak Supriadi (53), salah satu orang jawa di kampung
Arab yang kami datangi. Supriadi, pria paruh baya pecinta seni. Tampilannya sederhana,
Rambutnya putih beruban, berkaos putih oblong, bersarung biru kotak-kotak, dan
bersandal japit putih polos. Banyak hal yang beliau sampaikan pada kami. Pandangan
beliau berbeda dari narasumber-narasumber kami sebelumnya. Beliau justru
merasakan ada perbedaan mencolok pada sikap dan tradisi antara warga Arab dan
warga non-Arab. “Mereka sulit bersosial non, kalo lewat ya gak
pernah nyapa. Hanya orang tertentu yang mereka kenal yang mereka ajak bergaul.
Kalau ada sumbangan-sumbangan gitu paling sulit dimintai partisipasi, tapi
paling suka ngeluh sama nuntut kalo ada yang fasilitas kampung yang
kurang” tutur beliau. “Ya, kita biasa saja menyikapinya. Memang budaya mereka
gitu, non. Individualis. Kalau kondangan hanya orang tertentu yang
mereka mau datangi dan undang. Biasanya yang mau bergaul ya mereka yang miskin
saja”, lanjut beliau.
Pak
Supriadi sangat antusias menjawab pertanyaan-pertanyaan kami. Beliau memanggil
kami dengan sapaan “non”, seperti sudah akrab sekali. Beliau menuturkan
kebiasaan-kebiasaan orang Arab disini. Ada pengajian rutin setiap minggu,
mereka menyebutnya Al-Irsyad. Jamaahnya banyak dari berbagai daerah dikota
Malang. Kegiatan ini berpusat di masjid An-Nur. Banyak warga yang berjualan
disekitar masjid. Setiap Selasa ada kegiatan seperti qosidah di masjid
Al-Malikat, masjid khusus perempuan.
Mereka,
orang Arab memang terkesan indiviaualis jika dibandingkan kita, orang Jawa. Tidak
ada unggah-ungguh ke orang yang lebih tua, mereka memanggil yang lebih tua dengan
nama. Tidak ada sungkan atau semacamnya. Terkesan ekstrim. Tapi memang itulah
budaya mereka. Kita tidak bisa memprotes atau semacamnya. Dalam berucap, mereka
juga ceplas-ceplos. Gaya hidup mereka pun tinggi. Orang keturunan Arab punya
tradisi sendiri dalam adat perkawinan. Mereka juga suka membentuk
komunitas-komunitas tertentu.
Pria
keturunan Arab di kampung Arab kesehariannya mengenakan gamis panjang di bawah
lutut, dengan bawahan celana lurus. Dengan bewok lebat khas pria arab, mereka
melakukan aktivitas sebagaimana orang lain lakukan. Sedangkan para wanitanya,
mengenakan busana longgar berwarna gelap yang menutupi seluruh tubuh lengkap
dengan cadarnya yang menutupi sebagian wajahnya hingga yang terlihat hanya mata
mereka yang indah.
Ekonomi Kampung
Arab
Sebelum
kami mengakhiri ekspedisi kami untuk berburu infomarsi, Bapak Supriadi
menjelaskan tentang mata pencaharian orang Arab disini. Masyarakat Arab yang
ada di kampung Arab memang mayoritas mata pencahariannya pedagang. Dan yang
mereka jual bertema sama. Timur-tengah. Kalau bukan kain, kitab, oleh-oleh
haji, restoran timur-tengah, ya minyak wangi. Berdagang adalah jiwa mereka. Mendarah
daging hingga anak cucu mereka. Bukan
hanya prianya saja yang bekerja. Para Istri dan anak terkadang ikut membantu.
Para istri juga membentuk komunitas tersendiri. Mulai dari pengajian khusus
ibu-ibu hingga arisan rutin. Mereka suka berkumpul dengan mereka yang sama-sama
Arab. Namun sebenarnya ada persaingan antara satu dengan lainnya. Mereka
membuka usaha yang sama namun tidak ada kerja sama diantara mereka. Hal ini
terlihat sekali dari apa yang kami lihat di lapangan. Meskipun tetangga, mereka
jarang bertegur sapa.
Seni Bangunan
Kampung Arab
Setelah
keluar dari rumah mungil Pak Supriadi, Langkah kami tak berhenti begitu saja,
menyusuri setiap trotoar dan tikungan tikungan gang. Mata kami selalu
menjelajah ke setiap sudut-sudut daerah yang unik ini. Mencari-cari bahan yang
pas untuk dijadikan tema tugas kami. Menerawang di sela-sela padatnya perumahan
dan toko. Tidak ada perbedaan mencolok dalam segi seni bangunannya, tapi tetap
ada ciri khas diantara bangunan-bangunan yang ada disana. Lantai kedua bangunan
ruko mereka dibuat seperti ornamen-ornamen di masjid. Jendela dengan bentuk
setengah lingkaran diatasnya. Serta pamflet-pamflet yang bertuliskan lafadh
arab. Sedangkan rumah-rumah mereka sama halnya dengan rumah-rumah di Indonesia
pada umumnya. Tapi ada sedikit yang menarik perhatian kami, disetiap pintu ada
nama keluarga mereka. Ada yang ditulis latin ada pula yang ditulis dengan
tulisan arab.
Menjelajahi
kampung arab memang membuat kami capek. Capek badan dan kantong. Tapi banyak
sekali yang bisa kami dapat dari petualangan seharian kami menjadi wartawan
amatiran saat itu. Dan yang lebih melegakan, satu beban tugas uas telah
selesai.
Komentar
Posting Komentar