Contoh artikel Populer | Esai Mengungkap Sosio-Kultur Masyarakat Kampung Arab

DIBALIK CADAR
Mengungkap Sosio-Kultur Masyarakat Kampung Arab
Langkah kami terhenti didepan sebuah gapura besar menuju gang yang lumayan lebar untuk ukuran sebuah gang. Di sana tertulis Jalan Kapten Piere Tendean dan diseberang jalan tertulis Jl Sarif Al Qodri, Kawasan Embong Arab. Ini mungkin yang mereka maksud embong Arab. Toko-toko bernuansakan timur-tengah berjejer rapi. Parfum, oleh-oleh haji, toko kitab, hingga restoran khas timur-tengah lengkap dengan orang-orangnya. Ramai orang lalu lalang, dan benar saja kebanyakan dari mereka adalah orang arab, pria dengan jenggot tebal dan gamisnya, serta wanita bermata indah beserta jubah hitam lengkap dengan cadarnya. Serasa di Arab.
Bau khas kambing menusuk hidung kami,  mengaduk isi perut kami, para wartawan gadungan. Berburu informasi memang butuh perjuangan lebih, dan bau kambing tersebut mengurungkan niat kami untuk masuk ke sebuah restoran arab yang katanya paling tua dan berpengaruh disana. Setelah itu, kami, para wartawan amatir melanjutkan misi kami mengorek info tentang kampung Arab dan seluk-beluknya. Kami sempat ragu untuk masuk, karena seperti ada acara besar disana. Orang-orang lalu-lalang, sepeda motor tertata rapi sepanjang gang, suara ceramah menggema kesemua penjuru gang. Tapi akhirnya kami masuk juga. Malah saat itu adalah momen yang tepat, sedang ada pengajian rutin disana. Tak henti-hentinya mata kami melihat pemandangan yang ganjil namun unik. Begitu kental budaya Arab disana. Cara berpakaian, seni bangunan, mata pencaharian masyarakatnya, hingga suasananya.
Latar Belakang terbentuknya kampung Arab
Kami berhenti didepan sebuah rumah kecil berwarna pink.  Seorang wanita lansia kami temui disana. Ruqoyyah nama beliau. Beliau keturunan Arab. Dengan berbalut jubah pink lusuh serta kerudung yang melingkar sekenanya, dengan senang hati beliau meladeni kami, mahasantri UIN Malang. Tak segan-segan beliau menceritakan apa yang beliau ketahui. “Saya sudah sejak lahir disini mbak, dan dari saya kecil disini sudah banyak orang Arabnya, ya ndak tahu mungkin turun-temurun begitu”, itulah jawaban polos beliau saat kami tanya tentang latar belakang terbentuknya komunitas orang Arab di Kota Malang ini. Mungkin komunitas ini terbentuk dengan sendirinya sejak puluhan tahun lalu, tanpa ada yang memprakarsai, masyarakat luas menyebut daerah ini sebagai kampung Arab karena mayoritas penghuninya adalah orang Arab.  “Kami orang keturunan Arab yang disini merasa hidup bermasyarakat seperti layaknya orang lainnya, kebiasaan-kebiasaannya pun sama, dan tidak ada gep atau perbedaan-perbedaan yang seperti mbak katakan tadi antara kami yang Arab dengan orang Jawa. Kami hidup rukun disini”, lanjut beliau saat kami ajukan pertanyaan lain. “Hanya kalau seperti pernikahaan atau arisan saja kami punya tradisi dan kumpulan sendiri. Kalau pengajian seperti ini memang rutin diadakan. Yang ikut juga bukan kami penduduk sini thok, juga banyak dari luar kampung”, tambah beliau.

Pluralisme di Kampung Arab
Setelah berpamitan pada ibu Ruqoyyah, kami pun melanjutkan perjalanan kami untuk mengetahui informasi lebih jauh tentang kampung arab. Ada yang menarik perhatian kami saat melewati sebuah tikungan. Seperti ada sesuatu yang janggal pada rumah tua yang baru saja kami lewati. Kami memutuskan untuk kembali. Tak ayal, kami dikejutkan oleh pemandangan aneh tapi nyata, ada satu keluarga Tionghoa yang hidup ditengah-tengah masyarakat kampung Arab. Sungguh menarik. Kami memutuskan untuk singgah dan mewawancarai seorang wanita tua pemilik rumah itu. Awalnya beliau sedikit ragu, namun setelah kami meyakinkan, dengan senang hati beliau mempersilahkan kami masuk ke rumah kecilnya. Irawati namanya. Beliau keturunan tionghoa. Beliau adalah seorang Katolik. Usianya 70 tahun, terlihat dari tampilan fisiknya. Dengan kaos putih oblong dan rok span pendek selutut, beliau menyambut kami dengan ramah. Rambutnya yang tipis beruban dengan model cepak sebahu terurai begitu saja. Matanya sipit, seperti kebanyakan orang Cina lainnya. Pipinya keriput, Tubuhnya kurus kecil berkulit putih bersih. Pendengarannya sudah mulai terganggu, sehingga beliau selalu mendekat ketika mendengar pertanyaan kami. Dengan mengerut-ngerutkan wajahnya beliau mencoba mencerna pertanyaan kami dan menjawabnya.
“Saya sekeluarga sudah sejak dulu disini, ya memang saya besar disini. Banyak orang yang heran kenapa saya sekeluarga bisa tinggal di kampung arab ini, yang kebanyakan orangnya Arab”, jelas Bu Irawati. “Kami hidup rukun, tak ada perbedaan. Malah tk yang didepan itu dulunya adalah rintisan keluarga saya. Saya pun membuka toko kecil-kecilan ini, dan baik-baik saja.”, tutur beliau sambil menunjukan tokonya. Kami takjub dengan fenomena ini. Keluarga Bu Irawati hidup tenang ditengah tradisi orang Arab, yang sangat jauh dari tradisi mereka. “Oh, enggak mbak. Wong rumah saya memang disini, ngapain pindah?.”, jawab beliau ketika kami tanya apakah ada keinginan untuk pindah dari kampung Arab. “Saudara-saudara saya yang dari jauh kalau kesini awalnya juga takut akan diapakan gitu soalnya Arab semua. Padahal disini orangnya  baik-baik”. Menurut Bu Irawati, beliau sama sekali tidak terganggu dengan kegiatan-kegiatan pengajian rutin yang diadakan setiap minggu di kampungnya. “Saya malah senang. Saya suka ndengerin pengajiannya, isi ceramahnya lho bagus”, tutur beliau. 
Keadaan sosial budaya masyarakat Kampung Arab
Perjalanan kami berlanjut di rumah bapak Supriadi (53), salah satu orang jawa di kampung Arab yang kami datangi. Supriadi, pria paruh baya pecinta seni. Tampilannya sederhana, Rambutnya putih beruban, berkaos putih oblong, bersarung biru kotak-kotak, dan bersandal japit putih polos. Banyak hal yang beliau sampaikan pada kami. Pandangan beliau berbeda dari narasumber-narasumber kami sebelumnya. Beliau justru merasakan ada perbedaan mencolok pada sikap dan tradisi antara warga Arab dan warga non-Arab. “Mereka sulit bersosial non, kalo lewat ya gak pernah nyapa. Hanya orang tertentu yang mereka kenal yang mereka ajak bergaul. Kalau ada sumbangan-sumbangan gitu paling sulit dimintai partisipasi, tapi paling suka ngeluh sama nuntut kalo ada yang fasilitas kampung yang kurang” tutur beliau. “Ya, kita biasa saja menyikapinya. Memang budaya mereka gitu, non. Individualis. Kalau kondangan hanya orang tertentu yang mereka mau datangi dan undang. Biasanya yang mau bergaul ya mereka yang miskin saja”, lanjut beliau.
Pak Supriadi sangat antusias menjawab pertanyaan-pertanyaan kami. Beliau memanggil kami dengan sapaan “non”, seperti sudah akrab sekali. Beliau menuturkan kebiasaan-kebiasaan orang Arab disini. Ada pengajian rutin setiap minggu, mereka menyebutnya Al-Irsyad. Jamaahnya banyak dari berbagai daerah dikota Malang. Kegiatan ini berpusat di masjid An-Nur. Banyak warga yang berjualan disekitar masjid. Setiap Selasa ada kegiatan seperti qosidah di masjid Al-Malikat, masjid khusus perempuan.
Mereka, orang Arab memang terkesan indiviaualis jika dibandingkan kita, orang Jawa. Tidak ada unggah-ungguh ke orang yang lebih tua, mereka memanggil yang lebih tua dengan nama. Tidak ada sungkan atau semacamnya. Terkesan ekstrim. Tapi memang itulah budaya mereka. Kita tidak bisa memprotes atau semacamnya. Dalam berucap, mereka juga ceplas-ceplos. Gaya hidup mereka pun tinggi. Orang keturunan Arab punya tradisi sendiri dalam adat perkawinan. Mereka juga suka membentuk komunitas-komunitas tertentu.
Pria keturunan Arab di kampung Arab kesehariannya mengenakan gamis panjang di bawah lutut, dengan bawahan celana lurus. Dengan bewok lebat khas pria arab, mereka melakukan aktivitas sebagaimana orang lain lakukan. Sedangkan para wanitanya, mengenakan busana longgar berwarna gelap yang menutupi seluruh tubuh lengkap dengan cadarnya yang menutupi sebagian wajahnya hingga yang terlihat hanya mata mereka yang indah.
Ekonomi Kampung Arab
Sebelum kami mengakhiri ekspedisi kami untuk berburu infomarsi, Bapak Supriadi menjelaskan tentang mata pencaharian orang Arab disini. Masyarakat Arab yang ada di kampung Arab memang mayoritas mata pencahariannya pedagang. Dan yang mereka jual bertema sama. Timur-tengah. Kalau bukan kain, kitab, oleh-oleh haji, restoran timur-tengah, ya minyak wangi. Berdagang adalah jiwa mereka. Mendarah daging hingga anak cucu mereka.  Bukan hanya prianya saja yang bekerja. Para Istri dan anak terkadang ikut membantu. Para istri juga membentuk komunitas tersendiri. Mulai dari pengajian khusus ibu-ibu hingga arisan rutin. Mereka suka berkumpul dengan mereka yang sama-sama Arab. Namun sebenarnya ada persaingan antara satu dengan lainnya. Mereka membuka usaha yang sama namun tidak ada kerja sama diantara mereka. Hal ini terlihat sekali dari apa yang kami lihat di lapangan. Meskipun tetangga, mereka jarang bertegur sapa.
Seni Bangunan Kampung Arab
Setelah keluar dari rumah mungil Pak Supriadi, Langkah kami tak berhenti begitu saja, menyusuri setiap trotoar dan tikungan tikungan gang. Mata kami selalu menjelajah ke setiap sudut-sudut daerah yang unik ini. Mencari-cari bahan yang pas untuk dijadikan tema tugas kami. Menerawang di sela-sela padatnya perumahan dan toko. Tidak ada perbedaan mencolok dalam segi seni bangunannya, tapi tetap ada ciri khas diantara bangunan-bangunan yang ada disana. Lantai kedua bangunan ruko mereka dibuat seperti ornamen-ornamen di masjid. Jendela dengan bentuk setengah lingkaran diatasnya. Serta pamflet-pamflet yang bertuliskan lafadh arab. Sedangkan rumah-rumah mereka sama halnya dengan rumah-rumah di Indonesia pada umumnya. Tapi ada sedikit yang menarik perhatian kami, disetiap pintu ada nama keluarga mereka. Ada yang ditulis latin ada pula yang ditulis dengan tulisan arab.
Menjelajahi kampung arab memang membuat kami capek. Capek badan dan kantong. Tapi banyak sekali yang bisa kami dapat dari petualangan seharian kami menjadi wartawan amatiran saat itu. Dan yang lebih melegakan, satu beban tugas uas telah selesai.





Komentar

Postingan populer dari blog ini

TEKA-TEKI RAKYAT (PERTANYAAN TRADISIONAL)

“PLURALISME DAN MULTIKULTURALISME DI INDONESIA”

SOSIALISME DALAM SASTRA ARAB (NOVEL-NOVEL REALISME & PUISI-PUISI KARYA BADR SHAKIR AS SAYYAB)